Jarang Masuk Kuliah Bisa Berujung DO dari Kampus

YouTuber Muhammad Adimas Firdaus Putra Nasihan, yang lebih dikenal dengan nama Resbob, baru-baru ini mengalami konsekuensi serius terkait aktivitasnya di kampus. Ia di-drop out dari Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) karena sebuah kasus yang viral di media sosial, di mana ia melakukan penghinaan terhadap suporter Persib Bandung dan masyarakat suku Sunda.

Rektor UWKS, Rr Nugrahini Susantinah Wisnujati, menjelaskan bahwa Resbob merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) semester tiga. Namun, ia mengungkapkan bahwa Resbob tidak mengikuti perkuliahan secara penuh, yang memicu penilaian negatif terhadapnya.

Dengan perhatian terhadap berbagai rekomendasi, UWKS akhirnya mengambil langkah tegas dengan mencabut status Resbob sebagai mahasiswa. Keputusan ini diambil setelah adanya rapat rektorat yang membahas dampak dari pernyataan Resbob dan kemarahan publik yang menyertainya.

Penyebab Drop Out yang Kontroversial dan Dampaknya

Salah satu faktor utama di balik keputusan drop out ini adalah respons masyarakat yang keras terhadap tindakan Resbob. Setelah video yang berisi pernyataan kontroversialnya viral, protes dari berbagai kalangan mulai berdatangan, menuntut adanya tindakan tegas dari pihak universitas.

Dari hasil rapat, pihak rektorat menyatakan bahwa tindakan Resbob dianggap melanggar kode etik yang berlaku di kampus. Konten yang ia buat dinilai tidak hanya merugikan citra kampus, tetapi juga mencerminkan sikap yang bertentangan dengan nilai-nilai akademik dan keberagaman.

Melalui keputusan ini, UWKS ingin menegaskan komitmennya terhadap prinsip pendidikan yang menghormati semua suku dan agama. Mereka ingin memastikan bahwa lingkungan akademis tetap aman dan akrab, tanpa adanya intoleransi yang tercium dari perilaku salah satu anggotanya.

Tindakan Universitas dan Mempertahankan Nilai-Nilai Pendidikan

Pihak universitas menyatakan bahwa keputusan untuk mengeluarkan Resbob adalah langkah yang perlu diambil jika mengingat tanggung jawab moral lembaga pendidikan. Mereka sangat menekankan pentingnya menjunjung tinggi nilai kebhinekaan di kampus.

Nugrahini menegaskan bahwa UWKS selalu berkomitmen untuk menjadi tempat pendidikan yang inklusif, di mana semua mahasiswa dapat belajar dan berinteraksi tanpa rasa takut akan diskriminasi. Keputusan tersebut mencerminkan upaya institusi dalam menjaga keharmonisan sosial.

Universitas berharap sanksi ini dapat menjadi pelajaran bagi semua mahasiswa. Melalui tindakan tegas ini, diharapkan akan tercipta kesadaran yang lebih tinggi tentang pentingnya menjaga etika dan kesopanan di berbagai platform, termasuk media sosial.

Pentingnya Etika dan Kesopanan di Era Digital

Di era digital saat ini, konten yang dihasilkan oleh individu dapat menyebar dengan cepat dan memberikan dampak luas. Oleh karena itu, penting bagi semua pihak, termasuk mahasiswa, untuk memahami dan menginternalisasi nilai-nilai etika ketika menggunakan media sosial.

Dampak dari ujaran kebencian tidak hanya dirasakan oleh individu yang disasar, tetapi juga dapat menciptakan keretakan dalam masyarakat. Kasus Resbob menjadi contoh nyata bagaimana tindakan yang tampaknya sepele dapat berujung pada konsekuensi serius.

Dalam konteks ini, pendidikan tidak hanya mencakup pembelajaran akademis, tetapi juga pembentukan karakter serta sikap yang menghargai sesama. Keberagaman harus dipahami sebagai kekuatan dan bukan sebagai alasan untuk melakukan penghinaan.

Related posts